Impian Konyol Rina -- Cerpen Oleh Rahsa Lara
Impian Konyol Rina
“Rina!”
Merasa namanya dipanggil, perempuan
berambut hitam panjang itu langsung menengok. Ia sempat menghentikan
aktivitasnya terlebih dahulu.
“Ehmm ya, ada apa?” tanya Rina
bingung.
Dengan santai seorang remaja
laki-laki lengkap dengan seragam putih abu-abunya itu berjalan menghampiri Rina
seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
“Hai, aku Rayyan. Kita sekelas kok,
aku murid baru yang masuk kemarin. Ehmm boleh ke kelas bareng gak?”
Sejenak Rina memicingkan kepala,
melihat seorang laki-laki yang baru saja memanggil namanya dengan keras,
kemudian mengajaknya pergi ke kelas tanpa merencanakannya terlebih dahulu, dan
orang itu murid baru pula.
Ia terus memperhatikan laki-laki itu
dari ujung rambut sampai ujung kaki, atau lebih tepatnya Rina sedang menyeleksinya.
Apakah nantinya seorang remaja laki-laki yang bernama Rayyan itu baik atau
tidak, pintar atau tidak, dan ini yang utama, apakah nantinya laki-laki itu mau
berteman dengan dirinya atau tidak. Semua ini dilakukan Rina demi kelangsungan
hidupnya saat di sekolah.
“Apa aku boleh bertanya?”
Rayyan mengangguk, yang artinya dia
mengizinkan Rina untuk bertanya. “Apa mau jadi temanku? Ehm, itu pun kalau kamu
mau,” ujar perempuan itu sambil melirik-lirik ke sekitarnya karena merasa
gelisah.
Sontak, Rina langsung menundukkan
kepalanya setelah tidak sengaja melihat laki-laki yang kini berada di depannya
sedang memperlihatkan ekspresi kagetnya, bahkan Rayyan mengangkat sebelah
alisnya, kemudian berusaha menahan tawanya.
Entah kenapa tiba-tiba pipi Rina
memerah, ia malu. “Ehmm, tidak jadi deh. Aku ke kelas duluan saja, daah,”
katanya kemudian kabur bergitu saja, tanpa menyadari kalau barangnya ada yang
tertinggal.
“Ahhh, dasar aneh. Rina memang unik
hahaha, Eh ini kan miliknya,” gumam Rayyan sembari memegang sebuah benda yang
sepertinya adalah milik Rina.
***
“Aku bakalan kuliah di Jepang tahun
depan, dan liat aja nanti kalau aku pulang ke Indonesia, aku akan kasih kalian
oleh-oleh yang keren,” ujarnya sombong seraya menatap langit-langit ruangan.
Orang itu memang sangat aneh, persis
seperti yang dikatakan oleh teman sekelas juga gurunya sendiri, yap, itu karena
perempuam yang satu ini memang aneh, bahkan ia berbicara dengan tangannya
sendiri yang diangkat ke atas, hahaha aneh bukan anak itu.
“Hei Rina, jangan mimpi deh. Mimpi
kamu itu ketinggian hahaha, iya gak Sis,” sahut sang ketua kelas.
Mendengar ucapan sang ketua kelas,
Rina merasa kesal, ia tidak suka diremehkan, ya walau kenyataan memang tak
seindah ekspetasi. Perempuan itu tidak punya biaya untuk kuiah di luar negeri,
otaknya pun pas-pasan.
Seketika amarah menguasainya,
perempuan itu berjalan dengan angkuh ke arah Maya—ketua kelas yang baru saja
mengomentari ucapannya.
“Kamu kan belum tau masa depan,
lagipula Maya kan gak bisa melihat takdir seseorang,” balasnya.
Maya mulai kesal, ia pun mengeluarkan
jurus andalannya. “Hahahaha, kamu kan gak punya uang untuk kuliah di luar
negeri, lagipula Rina kan juga tidak pintar. Benar gak sih, hahaha,”
celetuknya.
Seketika nyali Rina menciut, karena
ia memang orang tidak punya, sama seperti yang dikatakan oleh Maya barusan, dan
terlebih lagi ia juga tidak pintar sama seperti yang dikatakan Maya barusan.
“Diam juga kan, mangkanya kalau mau komen atau marah, sama orang yang tepat dong,
jadi malu kan kamu.”
Rina menundukkan kepala, remaja itu
kembali duduk di bangkunya dengan tatapan kosong. Ia merogoh sakunya, tapi
tunggu, sepertinya barangnya hilang.
Perempuan itu jadi kalang kabut, ia
merogoh kedua sakunya, tas, juga laci mejanya, tapi apa? Rina tidak mendapatkan
barang yang dicarinya. Ia mulai khawatir kalau barang itu jatuh dan ditemukan
oleh temannya dan mereka akan mengejeknya nanti, air matanya mulai mengalir,
kalau saja barangnya tidak ketemu, nantinya apa yang dikatakan oleh Maya
benar-benar akan terjadi—tidak pintar.
“Hey aneh! Kok bisa sih kamu jatuhkan
buku sepenting ini?” ucap seseorang di depan Rina.
Spontan perempuan bernama Rina
Anindya itu langsung mendongak, melihat seorang laki-laki yang sedang memegang
buku keramatnya dengan sedikit malas sepertinya. Seketika air matanya berhenti
mengalir, tergantikan oleh senyuman indah.
“Waah, terima kasih ya. Buku ini
penting buat aku,” ujar Rina.
Rayyan hanya mengangguk, laki-laki itu
sebenarnya sudah tahu isi bukunya, jadi ia cepat mengembalikannya sebelum Rina
keteteran dengan semua soal matematikanya.
“Kalau mau kuliah di Jepang ayo
belajar, jangan berhenti untuk bermimpi, siapa tahu tahun depan kamu beneran
bisa kuliah di Jepang,” sahut Rayyan tiba-tiba.
Rina membelalakkan matanya. “Ehh ...
kamu tau dari mana?”
Laki-laki itu terkekeh. “Hei siapa
sih anak kelas kita yang gak tahu impian konyol kamu itu,” balasnya.
Lagi-lagi Rina menundukkan kepalanya,
“Ehmm iya juga, mungkin apa yang dibilang Maya barusan ada benarnya, aku anak
gak punya, otakku juga pas-pasan.”
Rayyan menggeleng. “Tidak! Kamu bisa
belajar bareng sama aku kapan-kapan, ehmm atau nanti sore mau ke rumah-ku,”
tawar remaja laki-laki berumur 17 tahun itu.
Seketika mata perempuan berambut
hitam panjang itu berbinar-binar, ia sangat antusias. “Serius! Beneran ya, ehmm boleh nih kalau aku ke
rumah kamu,”
Sekali lagi laki-laki bernama Rayyan
itu menganggukkan kepala, dan disertai dengan senyuman lebar. “Tapi berjanjilah
untuk mau mendengarkanku, atau kamu gak boleh belajar di rumahku lagi untuk
selamanya.”
Rina mengangguk mantap, ia dengan
segera menata buku-bukunya selagi menunggu pak Bara datang. “Oke deh, nanti
kalau sudah pulang ingetin aku yah.”
***
“Ayo, cepetan , batal nih kalau kamu lama ngerjainnya!” amuk Rayyan
setelah melihat Rina yang sangat lambat dalam mengerjakan tugasnya.
“Eh, iya-iya. Nih aku sudah selesai
kok,” balas Rina sambil menyodorkan buku keramatnya.
Setelah mengambil buku milik Rina,
remaja pintar bernama Rayyan itu memperhatikannya secara intens. “Baiklah,
nilaimu sudah bagus, kembangkan lagi ya. Ehmm ... dan jangan lupa untuk terus
belajar, buktikan ke semua orang kalau kamu bisa, dan kalau kamu mampu. Ini
adalah langkah awal buat kamu, untuk mengejar impianmu itu.”
Mendengar kata-kata mutiara dari
teman barunya itu, Rina merasa termotivasi, dia berdehem, kemudian
menganggukkan kepalanya. “Oke, terima kasih atas bimbinganya, ehmm ... aku akan
terus berusaha. Ya, seperti yang kamu bilang, ini adalah langkah awal menuju
kesuksesan. Kamu teman terbaik ...,” balas Rina, kemudian memeluk Rayyan dengan
sangat erat.
Rayyan hanya tersenyum, ia senang
karena bisa membantu teman barunya, lagipula siapa yang tahu kalau ternyata
Rayyan menyukai Rina sejak pertama kali dia masuk ke kelas.
Seketika Rina mendongak ke atas,
seolah sedang memikirkan sesuatu. “Ehm ... kira-kira jarak Indonesia ke Jepang
berapa ya?” tanyanya konyol.
Rayyan langsung menepuk jidatnya.
“Hei, Rina ini ya. Kamu saja belum belajar, tapi sudah memikirkan jarak
Indonesia ke Jepang, haduh ...,”
Rina langsung terkekeh, ia mennggaruk
lehernya. “Iya juga sih, ini ‘kan masih langkah pertama, masih sangat jauh
untuk bisa ke Jepang. Hehehe ...”
Komentar
Posting Komentar